AQIDAH AHLUSSUNNAH (4) TURUNNYA ALLAH DAN KEDATANGAN-NYA

TURUNNYA ALLAH DAN KEDATANGAN-NYA

Ahlul Hadits menetapkan kebenaran akan turunnya Allah ta’ala pada setiap malam kelangit dunia, tanpa menyerupakan dengan turunnya makhluk, tanpa memperumpamakannya serta tanpa mereka-reka bagaimananya.

Namun mereka menetapkan sebatas yang ditetapkan oleh Rasulullah, dan menafsirkan berdasarkan dzahirnya, sementara hakikat maknanya mereka serahkan kepada Allah.

Demikian juga mereka menetapkan berita yang diturunkan Allah ta’ala dalam Al-Qur’an diantaranya mengenai Al-Maji’ dan Al-Ityan (kehadiran dan kedatangan Allah), Allah berfirman :

هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ

“Tiada yang mereka nanti-nanti [pada hari kiamat] melainkan datangnya Allah dan malaikat dalam naungan awan…”(Al-Baqarah:210)

وَجَاء رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفّاً صَفّاً

“Dan datanglah Rabbmu, sedang malaikat berbaris-baris.” (Al-Fajar:22)

Baca lebih lanjut

AQIDAH AHLUSSUNNAH (3)

BERSEMAYAMNYA ALLAH DI ATAS ‘ARSY

Ahlul Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya, sebagaimana dalam surat Yunus:

إِنَّ رَبَّكُمُ اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُدَبِّرُ الأَمْرَ مَا مِن شَفِيعٍ إِلاَّ مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ….

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinan-Nya” (Yunus:3)

اللّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لأَجَلٍ مُّسَمًّى يُدَبِّرُ الأَمْرَ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاء رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ

“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabbmu”. (Ar-Ra’d: 2)

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيراً

“kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang Maha Mengetahui” (Al-Furqan:59)

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“kemudian Dia-pun bersamayam di atas ‘Arsy”.(As-Sajdah:4)

Baca lebih lanjut

Jenggot dalam pandangan Al-Qur’an dan as-Sunnah

Judul : Jenggot dalam pandangan Al-Quran dan As-Sunnah

Penulis : Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim

Penerjemah : Muhammad Taufiq bin Abdul Bakri bin Yusuf

File size : 288 kb. file Pdf (di dalam winrar)

Katagori : Gratis, ebook terjemahan alazharmesir.wordpress.com

Klik disini

Download sekarang

————————————————-

Buku ini punya kisah, mau tau? begini…

Suatu hari diwaktu kami menghadiri Talaqqi (kajian islam yang riwayat/sanadnya sampai ke Rasul shallallahu alaihi wasallam) dengan Ulama Ahlussunnah di Masjid Tauhid Mitghamr Egypt Syaikh kami membagikan buku kecil berbahasa arab tentang hukum jenggot ini kepada murid-muridnya, dari setingkat SLTP sampai DR lho.

Setelah kami selesai membacanya ingin sekali kami menerjemahkannya agar saudara kami yang lainnya dapat mengambil manfaat buku tersebut (asal jangan dijual ya hehehe).

Sekalipun buku terjemhan kami ini disebarkan gratis alias tanpa di pungut bayaran tapi kalau ada yang mau mencetak tentu izin dulu pada kami. Nah bagi anda yang ingin ikut serta dalam dakwah buku gratis ini silahkan hubungi no.hp kami.

oya satu lagi, buku terjemahan kami ada dua jenis :

1. Buku  gratis

2. Buku dijual murah

Terakhir kami ucapkan kepada anda semua selamat membaca, jangan lupa setelah dibaca copy filenya sebarkan pada yang lain. Tanpa mengupload file ini anda juga dapat mempublikasikannya di situs anda dengan mengcopy link downloadnya, insya Allah anda dapat pahala tanpa mengurangi pahala kami.

Jazakumullahu khairon.

Terima kasih.

AQIDAH AHLUSSUNNAH (2)

PERNYATAAN ASHHABUL HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

Dan demikian juga pernyataan mereka tentang sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits yang shahih, diantaranya: pendengaran, penglihatan, mata, wajah, ilmu, kekuatan, kekuasaan, keperkasaan, keagungan, kehendak, keinginan, perkataan, ucapan, ridha, marah, hidup, terjaga, gembira, tertawa, dll. Tanpa menyerupakannya dengan sifat makhluk, tetapi mencukupkan dengan apa yang dikatakan oleh Allah dan Rasul-Nya tanpa menambah-nambahi, mengembel-embeli, takyif, tasybih, tahrif, mengganti, merubah, serta tidak membuang lafadz khabar yang bisa dipahami untuk kemudian ditakwil dengan makna yang salah.

Mereka menafsirkan berdasarkan dzahirnya dan menyerahkan makna sesungguhnya kepada Allah, dan mengatakan bahwasanya hakikat sesungguhnya yang mengetahui hanyalah Allah. Sebagaimana diberitakan oleh Allah tentang orang-orang yang dalam ilmunya:

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُوْلُواْ الألْبَابِ

” Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (Ali-Imran:7)

AL-QUR’AN adalah KALAMULLAH BUKAN MAKHLUK

[Syaikh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni berkata:] “Ashhabul Hadits bersaksi dan berkeyakinan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah (ucapan Allah), Kitab-Nya dan wahyu yang diturunkan, bukan makhluk. Siapa yang menyatakan dan berkeyakinan bahwa ia makhluk maka kafir menurut pandangan mereka.

Al-Qur’an merupakan wahyu dan kalamullah yang diturunkan melalui Jibril kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dengan bahasa Arab untuk orang-orang yang berilmu sebagai peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ – نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ – عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ – بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍ

“Dan sesungguhnya al-Qur’an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. (Asy-Syu’ara: 192-195)

Al-Qur’an disampaikan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada umatnya sebagaimana yang diperintahkan Allah:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu”. (Al-Maidah:67),

dan yang disampaikan oleh beliau adalah kalamullah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Apakah kalian yang akan menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku” 1

Al-Qur’an yang dihafal dalam hati, dibaca oleh lisan, dan ditulis dalam mushaf-mushaf, bagaimanapun caranya Al-qur’an dibaca oleh qari’, dilafadzkan oleh seseorang, dihafal oleh hafidz, atau dibaca dimanapun ia dibaca, atau ditulis dalam mushaf-mushaf dan papan catatan anak-anak dan yang lainnya adalah kalamullah-bukan makhluk. Siapa yang beranggapan bahwa ia makhluk, maka telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung.

Al-Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah berkata: “Al-Qur’an adalah kalamullah-bukan makhluk. Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah kufur kepada Allah Yang Maha Agung, tidak diterima persaksiannya, tidak dijenguk jika sakit, tidak dishalati jika mati, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Ia diminta taubat, kalau tidak mau maka dipenggal lehernya. 2

Abu Ishaq bin Ibrahim pernah ditanya tentang lafadz Al-Qur’an, maka Beliau berkata: “Tidak pantas untuk diperdebatkan. ‘Al-Qur’an kalamullah-bukan makhluk “.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Orang yang menganggap makhluk lafadz Al-Qur’an adalah Jahmiyah, Allah berfirman:

فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللّهِ

“maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalamullah’ (At-Taubah:6).

Dari mana ia mendengar? 3

Abdullah bin Al-Mubarak berkata: “Siapa yang mengkufuri satu huruf Al-Qur’an saja, maka ia kafir (ingkar) dengan Al-Qur’an. Siapa yang mengatakan: Saya tidak percaya dengan Al-Qur’an maka ia kafir”

Footenote :

1 Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:” Adakah seseorang yang mau membawaku ke kaumnya?.

Sesungguhnya orang-orang Quraisy menghalangiku untuk menyampaikan kalam (ucapan) Rabbku” (HR.

Bukhari dalam Af’alul ‘ibad, At-Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Ibnu Majah)

2 Sanadnya shahih, disebutkan oleh Adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul Huffadz

3 Sanadnya shah

AQIDAH AHLUSSUNNAH (1)

AQIDAH AHLUS SUNNAH

Judul asli
Aqidah Salaf Ash-Habul Hadits

Ditulis oleh
Syaikhul Islam Abu ‘Utsman Isma’il Ash-Shabuni
(373 H – 449 H)

Beliau adalah sosok Ulama yang gigih menuntut ilmu, pada umur 10 tahun sudah menjadi juru nasehat. Imam Al-Baihaqi berkata: “Beliau adalah syaikhul Islam sejati, dan imam kaum muslimin sebenar-benarnya”.

Yang ada dihadapan pembaca ini merupakan ringkasan, pembahasan yang hampir mirip tidak diulang-ulang serta tidak disebutkan para perawinya.Takhrij hadits yang ada sebagian besar merujuk kepada kitab yang ditahqiq oleh Syaikh Badar bin Abdullah Al-Badar

KEYAKINAN ASHHABUL HADITS TENTANG SIFAT-SIFAT ALLAH

[Syaikh Abu Utsman Isma’il Ash-Shabuni berkata]: Semoga Allah melimpahkan taufiq. Sesungguhnya Ashhabul Hadits (yang berpegang teguh kepada Al-Kitab dan As-Sunnah) -semoga Allah menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati mereka yang telah wafat- adalah orang-orang yang bersaksi atas keesaan Allah, dan bersaksi atas kerasulan dan kenabian Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam.

Mereka mengenal Allah subhanahu wata’ala dengan sifat-sifatnya yang Allah utarakan melalui wahyu dan kitab-Nya, atau melalui persaksian Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits-hadits yang shahih yang dinukil dan disampaikan oleh para perawi yang terpercaya.

Mereka menetapkan dari sifat-sifat tersebut apa-apa yang Allah tetapkan sendiri dalam Kitab-Nya atau melalui perantaraan lisan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallamshallallahu `alaihi wa sallam. Mereka tidak meyerupakan sifat-sifat tersebut dengan sifat-sifat makhluk. Mereka menyatakan bahwa Allah menciptakan Adam ‘alaihissalam dengan tangan-Nya, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al-Qur’an: “Allah berfirman:

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ….

“Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. (Shaad:75)

Mereka tidak menyimpangkan Kalamullah dari maksudnya-maksud sebenarnya, dengan mengartikan kedua tangan Allah sebagai dua kenikmatan atau kekuatan, seperti yang dilakukan oleh Mu’thazilah dan Jahmiyyah -semoga Allah membinasakan mereka-.

Mereka juga tidak mereka-reka bentuknya atau menyerupakan dengan tangan-tangan makhluk, seperti yang dilakukan oleh kaum Al-Musyabbihah -semoga Allah menghinakan mereka-. Allah subhanahu wa ta’ala telah memelihara Ahlus Sunnah dari menyimpangkan, mereka-reka atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya. Allah telah memberi karunia atas diri mereka pemahaman dan pengertian, sehingga mereka mampu meniti jalan mentauhidkan dan mensucikan Allah ‘azza wa jalla. Mereka meninggalkan ucapan-ucapan yang bernada meniadakan, menyerupakan dengan makhluk. Mereka mengikuti firman Allah azza wa jalla:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
“tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Asy-Syuraa:11)

Al-Qur’an juga menyebutkan tentang “Dua tangan-Nya” dalam firman-Nya:

خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“..yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.. ” (Shaad:75)

Dan diriwayatkan dalam banyak hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan tangan Allah, seperti kisah perdebatan Musa dengan Adam ‘alaihimas salam, tatkala Musa berkata:

“Allah telah menciptakan dirimu dengan tangan-Nya dan membuat para malaikat bersujud kepadamu” (HR. Muslim)

Abu Bakar ash-Shiddiq

Nama lengkap beliau adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi – radhiyallahu`anhu. Bertemu nasabnya dengan Nabi pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Abu Bakar adalah shahabat Rasulullah – shalallahu`alaihi was salam – yang telah menemani Rasulullah sejak awal diutusnya beliau sebagai Rasul, beliau termasuk orang yang awal masuk Islam. Abu Bakar memiliki julukan “ash-Shiddiq” dan “Atiq”.
Ada yang berkata bahwa Abu Bakar dijuluki “ash-Shiddiq” karena ketika terjadi peristiwa isra` mi`raj, orang-orang mendustakan kejadian tersebut, sedangkan Abu Bakar langsung membenarkan.
Allah telah mempersaksikan persahabatan Rasulullah dengan Abu Bakar dalam Al-Qur`an, yaitu dalam firman-Nya : “…sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada sahabatnya: `Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’.” (QS at-Taubah : 40)
`Aisyah, Abu Sa’id dan Ibnu Abbas dalam menafsirkan ayat ini mengatakan : “Abu Bakar-lah yang mengiringi Nabi dalam gua tersebut.”
Allah juga berfirman : “Dan orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (az-Zumar : 33)
Al-Imam adz-Dzahabi setelah membawakan ayat ini dalam kitabnya al-Kabaa`ir, beliau meriwayatkan bahwa Ja`far Shadiq berujar :”Tidak ada perselisihan lagi bahwa orang yang datang dengan membawa kebenaran adalah Rasulullah, sedangkan yang membenarkannya adalah Abu Bakar. Masih adakah keistimeaan yang melebihi keistimeaannya di tengah-tengah para Shahabat?”
Dari Amru bin al-Ash radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah mengutusnya atas pasukan Dzatus Salasil : “Aku lalu mendatangi beliau dan bertanya “Siapa manusia yang paling engkau cintai?” beliau bersabda :”Aisyah” aku berkata : “kalau dari lelaki?” beliau menjawab : “ayahnya (Abu Bakar)” aku berkata : “lalu siapa?” beliau menjawab: “Umar” lalu menyebutkan beberapa orang lelaki.” (HR.Bukhari dan Muslim)
“Sesungguhnya Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Dan kalau saja aku mengambil dari umatku sebagai kekasih, akan aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa`id radhiyallahu`anhu, bahwa Rasulullah duduk di mimbar, lalu bersabda :”Sesungguhnya ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kemewahan dunia dengan apa yang di sisi-Nya. Maka hamba itu memilih apa yang di sisi-Nya” lalu Abu bakar menangis dan menangis, lalu berkata :”ayah dan ibu kami sebagai tebusanmu” Abu Sa`id berkata : “yang dimaksud hamba tersebut adalah Rasulullah, dan Abu Bakar adalah orang yang paling tahu diantara kami” Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling banyak memberikan perlindungan kepadaku dengan harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar. Andaikan aku boleh mengambil seorang kekasih (dalam riwayat lain ada tambahan : “selain rabb-ku”), niscaya aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Tetapi ini adalah persaudaraan dalam Islam. Tidak ada di dalam masjid sebuah pintu kecuali telah ditutup, melainkan hanya pintu Abu Bakar saja (yang masih terbuka).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Allah telah mengutusku kepada kalian semua. Namun kalian malah berkata `kamu adalah pendusta’. Sedangkan Abu Bakar membenarkan (ajaranku). Dia telah membantuku dengan jiwa dan hartanya. Apakah kalian akan meninggalkan aku (dengan meninggalkan) shahabatku?” Rasulullah mengucapkan kalimat itu 2 kali. Sejak itu Abu bakar tidak pernah disakiti (oleh seorangpun dari kaum muslimin). (HR. Bukhari)
Masa Kekhalifahan
Dalam riwayat al-Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu`anha, bahwa ketika Rasulullah wafat, Abu Bakar datang dengan menunggang kuda dari rumah beliau yang berada di daerah Sunh. Beliau turun dari hewan tunggangannya itu kemudian masuk ke masjid. Beliau tidak mengajak seorang pun untuk berbicara sampai akhirnya masuk ke dalam rumah Aisyah. Abu Bakar menyingkap wajah Rasulullah yang ditutupi dengan kain kemudian mengecup keningnya. Abu Bakar pun menangis kemudian berkata : “demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, Allah tidak akan menghimpun dua kematian pada dirimu. Adapun kematian yang telah ditetapkan pada dirimu, berarti engkau memang sudah meninggal.”Kemudian Abu Bakar keluar dan Umar sedang berbicara dihadapan orang-orang. Maka Abu Bakar berkata : “duduklah wahai Umar!” Namun Umar enggan untuk duduk. Maka orang-orang menghampiri Abu Bakar dan meninggalkan Umar. Abu Bakar berkata : “Amma bad`du, barang siapa diantara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Kalau kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati. Allah telah berfirman :
“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran : 144)
Ibnu Abbas radhiyallahu`anhuma berkata : “demi Allah, seakan-akan orang-orang tidak mengetahui bahwa Allah telah menurunkan ayat ini sampai Abu Bakar membacakannya. Maka semua orang menerima ayat Al-Qur`an itu, tak seorangpun diantara mereka yang mendengarnya melainkan melantunkannya.”
Sa`id bin Musayyab rahimahullah berkata : bahwa Umar ketika itu berkata : “Demi Allah, sepertinya aku baru mendengar ayat itu ketika dibaca oleh Abu Bakar, sampai-sampai aku tak kuasa mengangkat kedua kakiku, hingga aku tertunduk ke tanah ketika aku mendengar Abu Bakar membacanya. Kini aku sudah tahu bahwa nabi memang sudah meninggal.”
Dalam riwayat al-Bukhari lainnya, Umar berkata : “maka orang-orang menabahkan hati mereka sambil tetap mengucurkan air mata. Lalu orang-orang Anshor berkumpul di sekitar Sa`ad bin Ubadah yang berada di Saqifah Bani Sa`idah” mereka berkata : “Dari kalangan kami (Anshor) ada pemimpin, demikian pula dari kalangan kalian!” maka Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah bin al-Jarroh mendekati mereka. Umar mulai bicara, namun segera dihentikan Abu Bakar. Dalam hal ini Umar berkata : “Demi Allah, yang kuinginkan sebenarnya hanyalah mengungkapkan hal yang menurutku sangat bagus. Aku khawatir Abu Bakar tidak menyampaikannya” Kemudian Abu Bakar bicara, ternyata dia orang yang terfasih dalam ucapannya, beliau berkata : “Kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri.” Habbab bin al-Mundzir menanggapi : “Tidak, demi Allah kami tidak akan melakukannya, dari kami ada pemimpin dan dari kalian juga ada pemimpin.” Abu Bakar menjawab : “Tidak, kami adalah pemimpin, sedangkan kalian adalah para menteri. Mereka (kaum Muhajirin) adalah suku Arab yang paling adil, yang paling mulia dan paling baik nasabnya. Maka baiatlah Umar atau Abu Ubaidah bin al-Jarroh.”Maka Umar menyela : “Bahkan kami akan membai`atmu. Engkau adalah sayyid kami, orang yang terbaik diantara kami dan paling dicintai Rasulullah.” Umar lalu memegang tangan Abu Bakar dan membai`atnya yang kemudian diikuti oleh orang banyak. Lalu ada seorang yang berkata : “kalian telah membunuh (hak khalifah) Sa`ad (bin Ubadah).” Maka Umar berkata : “Allah yang telah membunuhnya.” (Riwayat Bukhari)
Menurut `ulama ahli sejarah, Abu Bakar menerima jasa memerah susu kambing untuk penduduk desa. Ketika beliau telah dibai`at menjadi khalifah, ada seorang wanita desa berkata : “sekarang Abu Bakar tidak akan lagi memerahkan susu kambing kami.” Perkataan itu didengar oleh Abu Bakar sehingga dia berkata : “tidak, bahkan aku akan tetap menerima jasa memerah susu kambing kalian. Sesungguhnya aku berharap dengan jabatan yang telah aku sandang sekarang ini sama sekali tidak merubah kebiasaanku di masa silam.” Terbukti, Abu Bakar tetap memerahkan susu kambing-kambing mereka.
Ketika Abu Bakar diangkat sebagai khalifah, beliau memerintahkan Umar untuk mengurusi urusan haji kaum muslimin. Barulah pada tahun berikutnya Abu Bakar menunaikan haji. Sedangkan untuk ibadah umroh, beliau lakukan pada bulan Rajab tahun 12 H. beliau memasuki kota Makkah sekitar waktu dhuha dan langsung menuju rumahnya. Beliau ditemani oleh beberapa orang pemuda yang sedang berbincang-bincang dengannya. Lalu dikatakan kepada Abu Quhafah (Ayahnya Abu Bakar) : “ini putramu (telah datang)!”
Maka Abu Quhafah berdiri dari tempatnya. Abu Bakar bergegas menyuruh untanya untuk bersimpuh. Beliau turun dari untanya ketika unta itu belum sempat bersimpuh dengan sempurna sambil berkata : “wahai ayahku, janganlah anda berdiri!” Lalu Abu Bakar memeluk Abu Quhafah
dan mengecup keningnya. Tentu saja Abu Quhafah menangis sebagai luapan rasa bahagia dengan kedatangan putranya tersebut.
Setelah itu datanglah beberapa tokoh kota Makkah seperti Attab bin Usaid, Suhail bin Amru, Ikrimah bin Abi Jahal, dan al-Harits bin Hisyam. Mereka semua mengucapkan salam kepada Abu Bakar : “Assalamu`alaika wahai khalifah Rasulullah!” mereka semua menjabat tangan Abu Bakar. Lalu Abu Quhafah berkata : “wahai Atiq (julukan Abu Bakar), mereka itu adalah orang-orang (yang baik). Oleh karena itu, jalinlah persahabatan yang baik dengan mereka!” Abu Bakar berkata : “Wahai ayahku, tidak ada daya dan upaya kecuali hanya dengan pertolongan Allah. Aku telah diberi beban yang sangat berat, tentu saja aku tidak akan memiliki kekuatan untuk menanggungnya kecuali hanya dengan pertolongan Allah.” Lalu Abu Bakar berkata : “Apakah ada orang yang akan mengadukan sebuah perbuatan dzalim?” Ternyata tidak ada seorangpun yang datang kepada Abu Bakar untuk melapor sebuah kedzaliman. Semua orang malah menyanjung pemimpin mereka tersebut.
Wafatnya
Menurut para `ulama ahli sejarah Abu Bakar meninggal dunia pada malam selasa, tepatnya antara waktu maghrib dan isya pada tanggal 8 Jumadil awal 13 H. Usia beliau ketika meninggal dunia adalah 63 tahun. Beliau berwasiat agar jenazahnya dimandikan oleh Asma` binti Umais, istri beliau. Kemudian beliau dimakamkan di samping makam Rasulullah. Umar mensholati jenazahnya diantara makam Nabi dan mimbar (ar-Raudhah). Sedangkan yang turun langsung ke dalam liang lahat adalah putranya yang bernama Abdurrahman (bin Abi Bakar), Umar, Utsman, dan Thalhah bin Ubaidillah.

Sumber :
-Al-Bidayah wan Nihayah, Masa Khulafa’ur Rasyidin Tartib wa Tahdzib Kitab al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir. – Shifatush-Shofwah karya Ibnul Jauzi. Tahdzib Syarh Ath-Thahawiyah -Al-Kabaa`ir karya Adz-Dzahabi.

PPMI Academic Awards 2008

PPMI Academic Awards 2008

Kamis pukul 15.00 waktu cairo (30/10)
Dalam rangka memberikan penghargaan kepada Mahasiswa Indonesia yang berprestasi ini, PPMI bekerjasama dengan KBRI Cairo adakan PPMI academic awards 2008. Acara ini adalah sebagai pemberian anugerah serta apresiasi PPMI dan KBRI terhadap mahasiswa berprestasi tahun akademik 2007-2008. Bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya PPMI Academic awards 2008 dihadiri oleh Grand Sheikh Al Azhar, Prof. Dr. Mohamed Sayyid Thantawi.

Dalam sambutannya, Duta Besar RI untuk Mesir, A.M Fachir antara lain mengatakan bahwa ini adalah kesyukuran yang sangat mendalam, karena acara ‘Haflat el Najihin wa takrim el mutafawwiqin’ tahun ini selain dihadiri Grand Syaikh Al Azhar, juga karena prosentase kenaikan tingkat dan kelulusan mencapai angka yang belum pernah dicapai sebelumnya, yaitu 67%. Selain prosentase kenaikan dan kelulusan, peningkatan juga terjadi pada predikat kenaikan. Pada tahun ini yang meraih predikat Mumtaz (Istimewa) sebanyak 6 orang, sementara yang mencapai nilai Jayyid Jiddan (Baik Sekali) sebanyak 159 mahasiswa, dan yang meraih Jayyid (Baik) sebanyak 658 mahasiswa.

Sementara itu Grand Sheikh Al Azhar dalam tausiyah yang disampaikan dihadapan para mahasiswa berprestasi antara lain menegaskan prestasi di dalam belajar hanya didapat oleh mahasiswa yang sungguh-sungguh, dan itu tidak melihat apakah dari Indonesia, Mesir atau negara lain, siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berprestasi.

Dalam kesempatan pemberian pengharaan, PPMI mengumumkan para pemenang di dalam bidang akademik dari berbagai kelompok organisasi di Mesir, antara lain Organisasi Almamater terbaik diraih oleh Almaki (Alumni Madrasah Aliyah di Padang Panjang); Sementara Senat Mahasiswa Fakultas Syariah dinobatkan sebagai Senat Mahasiswa Terbaik di bidang Akademik; Adapun Dewan Pengurusa Daerah (DPD) PPMI yang terbaik adalah DPD-PPMI Zaqaziq dan Organisasi Kekeluargaan Terbaik adalah Keluarga Pelajar Jakarta (KPJ).
Setelah itu tibalah saatnya yang membuat hati para hadirin berdebar-debar, kenapa karena akan disebutkan beberapa orang yang masuk nominasi mahasiswa terbaik tahun 2008 ini, dari tiga orang yang masuk nominator akhirnya yang terpilih adalah saudara Nurman Bin Abdul Bakri, mahasiswa ini berasal dari batas kota Padang Pariaman. Beliau mendapatkan dua penghargaan :
Pertama sebagai mahasiswa terbaik Al-azhar mesir pada tingkat IV (terakhir),
Kedua terpilih juga sebagai MASISIR OF THE YEAR – Mahasiswa Mesir terbaik dari ribuan mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Azhar Mesir. Diantara katagori penilaian adalah :
1. Dari segi pendidikan ( prestasi beliau tingkat I : Jayyid, tkt III: Jayyid Jiddan, tkt II dan IV mumtaz)
2. Dari segi organisasi (walaupun beliau tidak terlibat langsung dalam organisasi tapi sering di undang sebagai pemateri pada acara PPMI, Almamater Almaki dan Pelajar Jakarta dll.
3. Dari segi karya (tulisannya belum banyak tapi isinya sangat luar biasa -admin).

Dan Mahasiswi terbaik diraih oleh Dhorifah Niswah el Fida.

Malam Penghargaan Akademik yang diselenggarakan di Auditorium Pusatu Studi Ekonomi Islam Sholeh Abdullah Kamil Universitas Al Azhar ini dihadiri juga oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Drs. Slamet Sholeh, M.Ed, Pejabat Fungsi Protkons, Ketua-ketua organisasi mahasiswa di Mesir dan mahasiswa Indonesia di Mesir.

Untuk melihat foto Piagam perhargaan klik disini

Catatan :
kami minta maaf tidak bisa mempublish berita ini pada tgl acara karena tidak bisa online, karena kami keluar kota menuju cairo dan pulang ke kerumah pada hari jumat malam, saat itu internet macet. Jadi baru bisa kami publish hari sabtu ini. Sumber : admin alazharmesir.worpress.com dan atase pendidikan cairo.